Di Malioboro, patung jendral besar Sudirman masih berdiri. Malioboro sendiri sudah begitu berubah. Andong hanyalah kendaraan utk wisatawan, sementara gak ada lagi pedestrian utk berjalan kaki dgn nyaman sebab sudah diembat parkiran. Hotel, mall dan depsto bersaing mengubah facade bangunan menjadi modern. Namun patung jendaral Sudirman masih di sana, gak berubah.
Konon, saat negeri ini masih merasakan euforia kemerdekaan, banyak mantan pejuang yg terlihat berdiri di depan patung itu. Bukan utk memberi hormat, melainkan utk merasakan ’kedekatan’ dgn suatu masa; masa di mana kejayaan dan kemuliaan adalah bagian dari sehari-hari, masa perjuangan kemerdekaan.
Skluptur itu memang didirikan gak lama setelah kemerdekaan. Figur patung itu sederhana saja, sosok kurus pak Sudirman dgn mantel panjangnya (beda dgn profil pahlawan dlm bayangan saya, gagah spt pangeran Diponegoro yg pernah diperankan Ratno Timoer dlm film Pahlawan dari gua selarong). Wajah patung pak Sudriman juga tidak digambarkan arogan atau berwibawa; melainkan pasrah. Tentunya si pematung – siapapun ia – membayangkan kondisi jendral besar itu di akhir perang gerilya, TBC kronis sehingga harus ditandu.
Sebenarnya apa sih maknanya monumen? Kebayang gak enam puluh empat tahun setelah kemerdekaan kita masih bisa membuat patung sesederhana itu. Sebab monumen semacam patung pak Dirman itu - di masa ini hampir tidak mewakili apapun. Hampir gak ada perasaan bergetar, terharu atau sejenisnya dlm diri setiap kali melihatnya, krn memang masa ini sudah terlalu jauh.
Saya datang dari generasi yg hampir gak pernah merasakan adanya usaha apapun utk menghargai kesederhanaan – bahkan di tingkat simbol sekalipun. Saya datang dari zaman perayaan jor-joran. Bila sebuah monumen didirikan, maka ia haruslah mempunyai begitu banyak ornamen sbg cerminan besarnya biaya pembuatannya (juga besar biaya yg dikorup). Patung, skluptur, monumen atau apapun di masa ini adalah wacana buat memperingati kenangan kita sendiri – krn itu citranya juga harus disesuaikan dgn ambisi utk mendapatkan kehormatan (sekaligus kekhawatiran utk tidak dihormati).
But; let the statue be the statue.
Patung Jendral Sudirman masih berdiri, kok.
Tuesday, November 10, 2009
Patung Pahlawan
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

2 comment(s):
berarti sampai sekarang, masih Naga Bonar yang mau hormat kepada Patung Jendral Sudirman, ya mbak?
Saya cuma ingat tukang jual es kelapa muda di depan hotel *lupa apa namanya* di daerah Maliboro sana. Gak lihat monumen Jendral Sudirman waktu itu..
sampai kini, jenderal soedirman terus berdiri mematung..
Post a Comment
Hal-hal yg saya tulis adalah sebuah pengamatan terhadap berbagai kejadian sepele di sekitar kita, yg mungkin mirip jerawat di muka permasalahan raksasa. Saat membacanya, kamu boleh tersenyum (krn suka) atau kesal (krn gak setuju). Silakan, monggo!
Komentar lebih pribadi bisa dikirim ke beingandbeyond@yahoo.com